Atalanta, Tentang Mimpi yang Jadi Nyata


BUKUSKORID.COM - Atalanta melanjutkan mimpi mereka di Liga Champions. Kamis (20/dua/2020) dini hari WIB, Atalanta berhasil mengalahkan Valencia 4-1 dalam duel leg pertama 16 akbar Liga Champions 2019/20, San Siro.

Kemenangan ini luar biasa, bahkan bermain pada 16 akbar saja sudah termasuk keajaiban bagi Atalanta. Tidak ada yg menduga pasukan Gian Piero Gasperini ini mampu melaju hingga fase gugur.

Atalanta mulai berani bermimpi ketika keberuntungan membantu mereka di fase kelompok Liga Champions animo ini. Mereka tergabung di Grup C bersama Manchester City, Shakhtar Donetsk, dan Dinamo Zagreb.

Hampir Tidak Lolos

Tidak ada yg menganggap Atalanta bisa menemani Man City ke fase gugur. Mereka menelan 3 kekalahan, satu hasil imbang, dan dua kali menang.

Untungnya, Shakhtar dan Zagreb tidak benar-sahih konsisten di Liga Champions. Atalanta menutup klasemen menggunakan 7 poin di peringkat ke-2, unggul satu poin dari Shakhtar dan 2 poin berdasarkan Zagreb.

Lolos ke fase gugur sudah dipercaya menjadi sejarah akbar buat Atalanta, publik Bergamo berpesta. Lalu, keberuntungan lagi-lagi memihak mereka. Pada undian fase gugur, Atalanta dipertemukan dengan Valencia.

Tim Spanyol itu nir lemah, akan tetapi kentara bukan favorit kampiun. Atalanta setidaknya menghadapkan lawan yg selevel, Valencia pun demikian.

Medan Baru

Bicara pengalaman pada Liga Champions, Valencia jauh lebih baik menggunakan pengalaman segudang. Bagi Atalanta, Liga Champions adalah medan baru, mereka nir tahu apa pun tentang duel fase gugur.

Bermodalkan kemenangan di fase grup, Atalanta perlahan-huma tahu betapa sulitnya Liga Champions. Setiap pertandingan sulit, akan tetapi pasukan Gasperini sudah terbiasa menghadapi tim-tim bertenaga pada Italia.

Atalanta merupakan tim dengan bahan bakar semangat juang luar biasa. Mereka mampu mengubah strategi datang-tiba demi memenangkan pertandingan.

Bukan karena Uang

Yang perlu diingat merupakan dongeng Atalanta ini nir dipengaruhi sang faktor miliarder, Atalanta tidak punya pemilik klub sekelas konglomerat. Beban honor  Atalanta bahkan tidak masuk dalam top 10 Serie A.

Keberhasilan lolos ke 16 besar  menciptakan mereka mendapatkan aliran dana ekstra sebanyak 50 juta euro, total beban honor  mereka hanya di angka 36 juta euro.

Kesuksesan Atalanta lebih ditimbulkan oleh gaya-gaya sepak bola usang. Lantaran uang yang terbatas, mereka harus pintar-pandai  mencari bakat, bersabar, melatih menggunakan cerdas, & berinvestasi.

Akademi Atalanta dipuji menjadi salah  satu sumber bakat terbaik di Italia. Lalu, terdapat sosok Gasperini yang patut dipuji karena sanggup memaksimalkan potensi timnya.

Dimulai di 2016

Barisan bakat terbaik Atalanta ada ke permukaan dalam demam isu 2016/17. Pemain-pemain seperti Franck Kessie, Mattia Caldara, & Roberto Gagliardini membantu Alanta menembus zona Eropa sesudah absen hampir selama 30 tahun terakhir.

Saat itu pun Atalanta diperkuat pemain berbakat lainnya seperti Leonardo Spinazzola & Bryan Cristante. Lalu, setahun berselang, sebagian akbar nama-nama itu dijual dengan harga mahal.

Kehilangan talenta nir menciptakan Atalanta kesulitan, justru kebalikannya. Mereka bisa memanfaatkan uang output penjualan buat memperkuat skuad, menjaga kestabilan akademi, dan hasilnya bisa terlihat sekarang.

Punya Stadion Sendiri

Yang nir kalah istimewa, Atalanta ternyata punya stadion sendiri, bukan menyewa pada pemerintah Italia. Hanya ada empat klub yg mempunyai stadion sendiri pada Serie A, keliru satunya Atalanta.

Hal-hal inilah yg memperkuat fondasi klub, mulai dari akademi, stadion, & tentunya instruktur. Gasperini mungkin bukan genius strategi, akan tetapi beliau tahu caranya memaksimalkan jebolan akademi.

Alanta perlahan-lahan dibentuk menjadi klub akbar. Calon raksasa Italia di masa depan.

Belum ada Komentar untuk "Atalanta, Tentang Mimpi yang Jadi Nyata"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel